oleh

Akses Jalan Tani Dipersulit, DPRD Lutra Sarankan Aparat Desa Musyawarah

-TERKINI-
Warning: array_key_exists() expects parameter 2 to be array, bool given in /www/wwwroot/radarluwuraya.com/wp-content/plugins/wp-postviews/wp-postviews.php on line 185

MASAMBA, RADARLUWURAYA.com – Angota DPRD Kabupaten Luwu Utara, Drs H Mahfud Yunus MM menanggapi sebuah spanduk larangan yang terpasang di salah satu lahan milik warga Desa Tarra Tallu, Kecamatan Mappedeceng, Kabupaten Luwu Utara yang dinilai resahkan warga setempat.

Pasalnya, spanduk itu melarang warga untuk menggunakan lahan itu sebagai alternatif jalan tani.

H Mahfud menilai hal itu dapat diselesaikan bila aparat desa setempat duduk bersama membangun komunikasi untuk memecahkan masalah.

“Sedikit saya masuk (komentari) ya, ini kan persoalan jalan tani. Jadi ini bisa dibahas aparat desa melalui musyawarah. Terkait permintaan warga, saya rasa bisa di anngarkan dari Swadaya Masyarakat atau Dana Desa,” kata Mahfud saat ditemui, Selasa (13/7) diruang rapat Komisi III DPRD Luwu Utara.

Meski demikian kata Mahfud, pesoalan ini sebenarnya tak perlu dikomentari DPRD Luwu Utara. Sebab kemungkinan angaran yang akan digunakan dalam hal ini melalui swadaya masyarakat ataupun dana desa.

Sebab DPRD Luwu Utara akan berkomentar bila anngaran itu bersumber dari APBD Kabupaten Luwu Utara.

Untuk diketahui, spanduk yang terpasang itu menyatakan “Barang siapa yang kasih keluar ini kerikil akan berurusan sama polisi” tulis pemilik lahan yang belum diketahu identitasnya dalam spanduk yang ditemukan warga terpampang sejak Jumat, 9 Juli 2021 pekan kemarin.

Sebelumnya diberitakan, bahwa spanduk larangan itu sangat meresahkan warga setempat. Hal itu diungkapkan salah satu warga, Andika, Senin (12/7/2021) kemarin

“Memang lahan ini bukan jalan tani, hanya karena banjir bandang Tahun 2010, maka ini digunakan sebagai alternatif,” ungkap Andika.

Sementara salah satu Tokoh Pemuda Desa Tarra Tallu, Hendra Al Ghafur menyebutkan, Desa Tarra Tallu dilanda banjir sejak Tahun
2010 silam.

Hal itu mengakibatkan wilayah Desa terbagi menjadi 2 bagian. “Lahan produktif kini menjadi sungai dan jalan tani menjadi rusak,”
beber Hendra.

Lebih jauh dikatakannya, banjir itu akibat luapan Sungai Baliase. Sebelum 2010 sungai berada di perbatasan Desa Rompu, Kecamatan
Masamba, Kabupaten Luwu Utara.

Namun saat ini sungai tersebut sudah berada di tengah-tengah Desa Tarra Tallu, bahkan sangat dekat dengan jalan Poros Kecamatan
Mappedeceng dan fasilitas umum lainnya, seperti mesjid dan Gereja.

“Sehingga sejak terjadinya banjir 2010 silam, warga setempat menggunakan jalan alternatif dan ban dalam mobil untuk melewati sungai
setiap pagi dan sore saat hendak ke lahan milik para petani setempat lantaran tak memiliki akses jalan lain,” urai Hendra.

Karena hal itu kata dia, dengan adanya permasalahan ini, maka peran pemerintah setempat sangat diharapkan agar tidak terjadi hal-hal
yang merugikan masyarakat.

“Misalkan pembuatan jalan tani dengan menggunakan Dana Emergency baik di Desa, Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara
bahkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan harus turun tangan dalam hal ini Dinas Penanggulangan Bencana. Sebab permasalahan
ini sudah 11 Tahun,” harap Hendra. (rlr)

Komentar