oleh

Hari Lapang Tani, Petani Kakao di Mappedeceng Unjuk Keberhasilan Pengendalian PBK Ramah Lingkungan

Luwu Utara, radarluwuraya.com — Pemerintah Kabupaten Luwu Utara bekerjasama dengan Rainforest Alliance kembali menggelar kegiatan Hari Lapang Tani atau Farmer Field Day (FFD) setelah sempat terhenti selama hampir dua tahun akibat pandemi COVID-19.

Kegiatan yang dibuka Kepala Bappelitbangda, Alauddin Sukri, ini dilaksanakan di Kebun Kakao milik salah seorang petani yang berlokasi di Desa Ujung Mattajang Kecamatan Mappedeceng, Kamis (23/12/2021). Puluhan petani hadir dari berbagai perwakilan desa se-Mappedeceng.

Kehadiran mereka untuk melihat dan mendengarkan hasil pertunjukan Kebun Kakao Demplot Peningkatan Produksi dan Pengendalian Hama PBK dan Busuk Buah yang diinisiasi Rainforest Alliance melalui Program Tranformasi Kakao (Traksi) Peningkatan Nilai Tambah bersama mitra Koperasi Multi Jasa Tani – Simultan.

Kepala Bappelitbangda, Alauddin Sukri, tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih atas pendampingan yang dilakukan Rainforest Alliance melalui Program Tranformasi Kakao Peningkatan Nilai Tambah bersama mitra Koperasi Multi Jasa Tani – Simultan.

“Kami ucapkan terima kasih atas pendampingan di Kabupaten Luwu Utara,” ucap Alauddin saat mewakili Bupati membuka kegiatan FFD. Kata Alauddin, demonstrasi teknologi pada kebun demplot salah seorang petani di Desa Ujung Mattajang ini bisa dikatakan sangat berhasil.

“Kita lihat bahwa tanah kita ini bermasalah, tentu perlu perlakuan lebih dengan penambahan bahan organik. Nah, sekarang kita lihat di sini, banyak bunga dan buah di batang, bukan lagi di atas atau di tangkai ujung,” sebut Alauddin.

Ia menyebutkan bahwa demplot peningkatan produksi dan pengendalian hama PBK sudah sangat berhasil. “Ini adalah hasil inovasi yang sangat baik dan perlu disebarluaskan dan semoga bisa ditindaklanjuti di lokasi lain di Luwu Utara”, harapnya.

Pada kesempatan itu, Alauddin juga berkesempatan memetik buah kakao hasil demplot. Meski beberapa buah terlihat terserang hama PBK, tapi bijinya tetap baik dan tidak lengket, sehingga layak dipetik. “Ini semua tidak terlepas dari perlakuan yang diberikan,” jelas Alauddin.

Sementara Manajer Cocoa Rainforest Alliance, Hasrun Hafid, mengatakan bahwa sebelumnya kakao Luwu Utara mengalami dampak penurunan produksi. Akibatnya, kata dia, banyak petani mau menebang pohon kakaonya karena unsur hara tanah sudah semakin kecil serta hama penyakit yang sulit ditangani petani.

“Hasil uji tanah di kebun demplot ini memperlihatkan C/N rasio hanya 12,5%, sementara idealnya adalah 15%. Sementara carbon organik dan pH-nya rendah. Olehnya itu, melalui demplot ini, kita telah melakukan intervensi perbaikan kesehatan tanah dan pemenuhan nutrisi tanaman serta mendemonstrasikan praktek perkebunan kakao yang baik,” jelas Hasrun.

Pada kesempatan itu, pemilik kebun hasil demplot, Lamang (54), mengaku bahagia dan sangat bersyukur kebunnya dijadikan lokasi percontohan dan pendampingan Program Tranformasi Kakao Peningkatan Nilai Tambah.

“Saya bersyukur kebun ini sudah bagus kembali. Sebelumnya sedikit sekali buah yang dipanen karena banyak busuk buah dan buah keras serta serangan hama tikus,” ungkap Lamang. Namun, ungkap dia, setelah mendapat pendampingan, kondisi kebun kakao mulai berubah.

“Setelah beberapa kali menerapkan teknologi Agrodykye, sekarang banyak bunga yang bermunculan dan sisa buah yang terserang PBK masih bisa saya panen dan tidak keras lagi alias mudah dipisahkan biji kakaonya,” ucap Lamang menceritakan kondisi kakao-nya kini.

“Begitu juga saya lihat pada buah hitam, kulitnya memang hitam, tapi biji di dalamnya masih bagus dan masih bisa dijual,” cerita Lamang di hadapan puluhan petani kakao.

Pada FFD kali ini, selain mengundang petani di sekitar demplot, panitia juga menghadirkan penyedia teknologi produk kakao untuk bisa berbagi cerita sukses kepada petani. Termasuk mengundag beberapa lembaga keuangan, penyuluh pertanian serta Dinas P2KUKM.

Kegiatan Hari Lapang Tani ini juga memamerkan hasil olahan biji kakao fermentasi dari poktan binaan Koperasi Simultan yang telah berhasil membuat kakao fermentasi, coklat olahan dan minuman dari hasil kebun petani selama didampingi pada program Traksi.

Ketua Koperasi Simultan, Ponari, mengungkapkan, ada 340 petani yang telah dilatih membuat kakao fermentasi yang nantinya bisa dijual ke pasar kakao premium. “Di tahun pertama bermitra dengan Rainforest Alliance, kami telah melatih petani sebanyak 340 orang untuk bisa membuat kakao fermentasi,” ungkap dia. (*)

Komentar

News Feed