oleh

Ada Surat Edaran Kemenag RI Soal Volume Suara Adzan, Rauf: Kita Akan Tambah

RADARLUWURAYA.com – Sekjen Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) Luwu Raya, Abdul Rauf La Dewang telah menerima surat edaran dari Kementrian Agama (Kemenag) RI.

Itu terkait instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor:KEP/D/101/1978 tentang tuntunan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar dan mushallah.

Hanya saja, Rauf mengaku tidak begitu sependapat dengan perubahan volume pengeras suara adzan di masjid.

Pasalnya, selama ini, untuk wilayah Luwu Raya, tidak ada masalah dengan suara adzan yang diperdengarkan melalui pengeras suara di masjid.

“Malah sebaliknya justru akan kita tambah volumenya, karena keras saja suara adzan kurang jamaah apalagi kalau mau dikecilkan,” ucap Rauf.

Menurut tokoh Islam ini, di Luwu Raya, volume suara adzan tidak ada masalah.Kemenag RI dinilai tidak melihat masalah ini secara global. Ia juga menambahkan bahwa Instruksi itu sudah ada sejak tahun 1978.

“Ini sudah ada sejak zaman Suharto, Habibie, Gusdur, Mega, SBY, di masa itu aman-aman saja, nanti saat ini baru hal ini diperdebatkan lantaran kasus Meliana di Tanjung Balai tempo lalu,” terangnya.

Lantaran kasus itu, lanjutnya, makanya suara adzan mulai dipermasalahkan. Ia menilai, Instruksi Kementerian Agama sebenarnya tidak perlu ada, karena tidak berdampak di Luwu Raya.

“Alhamdulillah, toleransi di Luwu Raya baik. Tapi kalau instruksi ini di politisasi terus, justru akan membuat suasana toleransi menjadi tidak harmonis,” sebutnya.

Lanjut dia lagi,”Selama ini, kehidupan beragama di Luwu Raya sangat kondusif dan harmonis, antara suara lonceng gereja dan suara adzan masjid selama ini berjalan sebagaimana mestinya, masing-masing justru saling menghormati antara pemeluk agama di Luwu Raya,” ujar Rauf, Rabu (29/8/2018).

Makanya itu, Rauf bersikeras untuk tidak menurunkan suara adzan di masjid.

“Hanya memang khusus masuknya waktu shalat, suara adzan tetap kita akan keraskan. Apalagi saat ini suara kendaraan yang lalu-lalang sehingga diperlukan loudspeaker yang kuat untuk meredam suara lainnya pada saat waktu shalat tiba,” kata dia.

Kendati demikian, ujar Rauf lagi, untuk prosesi ibadah salat dan ngaji, maka cukup suara di dalam masjid yang digunakan sebagaimana instruksi Dirjen Bimas Islam No:Kep/D/101/1978.

“Intinya waktu adzan tetap tidak ada perubahan dan ini tidak bertentangan dengan instruksi 78, jadi edaran itu sebenarnya gak ngaruh dan berdampak dalam kehidupan toleransi di Luwu Raya,” tandasnya.(tiara)

Komentar