oleh

Dinilai Langgar SOP, Warga Mappedeceng; Copot Kapolres dan Kasat Reskrim Polres Lutra

RADARLUWURAYA.com – Ratusan warga Mappedeceng melakukan aksi demonstrasi di depan Polres Luwu Utara, Selasa (15/1).

Massa demonstran menuntut keadilan atas insiden yang menewaskan salah satu warga Mappedeceng bernama Ahmad Dandi.

Almarhum Dandi ditemukan tewas mengapung di Bendungan Baliase, Senin (14/1) kemarin.

Atas insiden kematian Dandi, Demonstran menduga adanya unsur kesengajaan dan pembiaran oknum polisi dalam penangkapan tersebut.

Sehingga demonstran menilai penangkapan yang dilakukan polisi tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) saat melancarkan operasinya terhadap Almarhum Dandi.

“Meninggalnya salah satu warga Mappedeceng (Dandi) di Bendung Baliase diduga oknum polisi melakukan pembiaran,” kata salah satu orator, Akbar.

Menurut informasi, Almarhum Dandi merupakan salah satu DPO Polres Luwu Utara atas kasus perkelahian antar Desa di Mappedeceng.

Untuk itu, massa Demonstran meminta penegak hukum agar memproses secara hukum oknum polisi yang terlibat atas insiden yang dialami Almarhum Dandi hingga tewas.

“Jika pihak kepolisian tidak dapat memberikan kepastian atas kasus ini, maka kami meminta copot Kapolres dan Kasat Reskrim Luwu Utara,” teriak Akbar.

Usai orasi, massa demonstran dari Mappedeceng ini langsung diterima oleh Kapolres Luwu Utara, AKBP Boy FS Samola, didampingi Kasat Reskrim Polres Luwu Utara, IPTU Samsyul Rijal, menemui 20 orang perwakilan pendemo untuk memberikan penjelasan.

Namun dalam mediasi itu tidak ada titik temu antara Polres Luwu Utara dengan Massa Demonstran dari warga Mappedeceng.

Saat mediasi itu Polres Luwu Utara hanya menjelaskan kronologis terjadinya penangkapan DPO yang dilakukan oleh anggotanya.

Namun tuntutaan massa demontrasi yang meminta keadilan hukum tidak dapat dilakukan. Sehingga massa demontran memutuskan untuk membubarkan diri karena tidak adanya kejelasan dari Polres Luwu Utara atas kasus tersebut. (Herman)

Komentar