oleh

Dinilai Salah Bestek, Tipikor Polres Luwu Timur Usut Proyek Drainase Jalur Dua

RADARLUWURAYA.com- Tipikor Polres Luwu Timur mulai bidik Proyek revitalisasi drainase jalur dua yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Luwu Timur.

Proyek yang menghabiskan anggaran APBD tahun 2018 seniali Rp 679.7 juta itu diindikasikan dikerja asal-asalan.

Proyek Drainase Pra Cetak itu dikerjakan CV Dian Suis dan konsultan pengawas A Empat Konsultan.

Waktu pelaksaan pekerjaan di mulai pertanggal 5 Juni 2018 sesuai Tanggal kontrak proyek, dengan masa pelaksanaan 200 hari kalender.

Sementara dalam pelaksanananya , proyek tersebut dinyatakan tidak selesai hingga berakhir kontrak pekerjaan pada desember 2018 dan nyebrang di tahun 2019.

“Iya dek , sudah di usut itu, di indikasikan ada kwalitas pekerjaan yang tidak sesuai bestek, “kata Kasat Reskrim Polres Lutim ,Kamis (7/2/2019)

Menurtnya, Penyidik sudah memeriksa pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksnanaan tersebut

“PPK-nya sudah kita periksa, apakah ada indikasi merugikan negara itu juga masih dalam proses penyelidikan kepolisian,”katanya

Sementara, Kepala Dinas PU Lutim, Dohri saat dikonfirmasi mengaku jika sebelumnya proyek tersebut dinyatakan Putus Kontrak dengan alasan kontrak tidak diperpanjang karna pihak rekanan tidak mampu.

“Setelah saya tanya PPKnya, ternyata pekerjaan diperpanjang dan tidak di putus kontrak, jadi ada mis komunikasi, yang di putus kontrak hanya jam dinding yang rekananya sama “katanya

Dikatakan Dohri , pekerjaan drainase Pra Cetak yang berada di jalur dua itu kontraknya di perpanjang dengan maksimal waktu 50 hari kalender.

“pekerjaanya masih berjalan dengan waktu 50 hari, dengan hitungan denda perhari 1/1000,”katanya

Sebelumnya, Pemerhati Barang dan Jasa Pemerintah (PBJP) Luwu Timur, Erwin R. Sandi, mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk memeriksa proyek yang menyebrang tahun tersebut.

Disebutkannya, salah satu alasan kenapa proyek ini menyebrang tahun tidak diputus kontrak, karena pembayaran ke rekanan lebih tinggi dari pada bobot pekerjaan dilapangan.

“Semoga APH jeli dan memeriksa progress pembayaran proyek yang menyebrang tahun dan mencocokkan dengan progres yang ada dilapangan,” tutur Erwin.

Sebagai bukti bahwa proyek tersebut bermasalah, Erwin akan memberikan sampel ke pihak APH untuk memeriksa realisasi pembayaran dan progres lapangan proyek Revitalisasi Drainase Jalur Dua Soekarno Hatta Desa Puncak Indah yang diduga ada penyimpangan. (*)

Komentar