oleh

Dinkes Lutim Akui Cairan Disinfektan Berbahaya Bila Terkena Tubuh Manusia

MALILI, RADARLUWURAYA.com — Saat ini berbagai rupa ikhtiar dilakukan warga dunia demi terhindar dari pandemi Corona, termasuk menyemprot jalanan dengan disinfektan.

Kegiatan penyemprotan itu juga marak dilakukan di Indonesia. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai itu sebagai cara konyol.

Penyemprotan disinfektan di jalanan dan lingkungan luar ruangan memang bukan fenomena Indonesia saja. Di India, Meksiko, hingga Turki juga demikian.

Menanggapi hal itu, Plt Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur, Rosmini Pandin sangat setuju dengan ungkapan WHO itu. Meski demikian, penyemprotan disinfektan juga tetap perlu dilakukan.

Sejauh ini penyemprotan disinfektan yang dilakukan khususnya di Kabupaten Luwu Timur, tak merekomendasikan penyemprotan mengenai tubuh manusia. Apalagi sampai terkena selaput lendir, sebab hal ini sangat berbahaya bila dilakukan terus menerus.

Akan tetapi kata dia yang perlu disemprot disinfektan seperti benda-benda yang lazimnya banyak orang sentuh, seperti pegangan pintu ditempat umum atau kursi diareal publik.

“Penyemprotan disinfektan memang tak dianjurkan disemprotkan ke tubuh manusia. Itu, berbahaya jika terkena selaput lendir,” kata Rosmini, Rabu (8/4) saat ditemui di Rujab Bupati Luwu Timur.

Menurutnya, pencegahan yang paling efektif yakni seperti yang direkomendasikan WHO seperti mencuci tangan dengan sabun, sosial Distancing (menjaga jarak), termasuk berdiam diri dirumah.

“Kita selama ini menjadikan WHO sebagai salah satu referensi dalam melakukan kegiatan di Daerah,” kata Rosmini.

Untuk diketahui, baru-baru ini disiarkan DW News, presenter Phil Gayle bertanya kepada Kepala Jaringan Wabah dan Tanggap Darurat Global WHO, Dale Fisher. Dia meminta pandangan Fisher mengenai penyemprotan jalanan dengan disinfektan yang dilakukan di mana-mana.

“Mungkin itu adalah citra masyarakat yang kita anggap serius, saya tidak tahu. Yang jelas, itu adalah hal yang tidak kami rekomendasikan. Kami tidak percaya orang-orang tertular virus dari permukaan tanah (jalanan -red),” kata Fisher, sebagaimana diunggah DW News di akun YouTube, Kamis (2/4) pekan lalu.

Dari pada menyemprot jalanan dengan disinfektan mengandung klorin, lebih baik menggalakkan kegiatan cuci tangan dengan sabun.

“Saya lebih melihat orang-orang mencuci tangan dan menjaga jarak, hal seperti itulah yang merupakan aksi tanggap masyarakat terhadap virus, bukan menyemprotkan klorin di mana-mana,” kata Fisher.

Dilansir Reuters, Fisher bahkan menganggap langkah penyemprotan jalanan dengan disinfektan bisa berisiko merugikan kesehatan masyarakat, membuang waktu, dan menghamburkan sumber daya.

“Itu adalah sebuah gambaran konyol di banyak negara,” kata Fisher yang juga ahli penyakit menular, Selasa (31/3).

“Saya tidak percaya itu bisa berkontribusi apapun untuk merespons (COVID-19) dan bisa beracun bagi masyarakat. Virus itu tidak akan bertahan lama di lingkungan dan orang-orang pada umumnya juga tidak menyentuh permukaan (tanah/jalanan),” kata Fisher.

Peneliti dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) China, Zhang Liubo, bahkan mewanti-wanti masyarakat supaya tidak kelewat kerajingan main semprot disinfektan. Soalnya, cairan disinfektan bisa berbahaya bagi manusia bila kelewat banyak masuk ke tubuh.

“Permukaan di luar ruangan, seperti jalanan, tempat lapang, rerumputan, jangan sering-sering disemprot dengan disinfektan. Menyemprot disinfektan dalam area yang luas dan terus-terusan bisa bikin polusi lingkungan dan harus dihindari,” kata Zhang Liubo, dilansir Science dari siaran televisi CCTV China. (rlr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *