oleh

Halal bi Halal KKL Raya, Gubernur : Jadikan Luwu Raya Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

RADARLUWURAYA.com, MAKASSAR – Kerukunan Keluarga Luwu (KKL) Raya menggelar halal bi halal dengan mengangkat tema “Merajut Ukhuwah Dan Persatuan Wija To Luwu Dalam Mendorong Akselerasi Pembangunan Sulawesi Selatan Yang Lebih Maju” di Hotel Claro Makassar, Jum’at (12/7) malam.

Hala bi halal KKL Raya yang dihadiri ribaun Wija to Luwu ini bertujuan untuk membangun silaturahmi bersama seluruh keluarga se-Luwu Raya yang ada di Makassar.

Hadir pada kegiatan ini Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah (NA), Datu Luwu Sri Paduka Andi Maradang Mackulau, Ketua KKL Raya Buhari Kahar Mudzakkar, Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, Bupati Luwu Basmin Mattayang, Bupati Luwu Timur M Thoriq Husler.

Mantan Bupati Luwu Timur dua periode A Hatta Marakarma, mantan Bupati Luwu Utara Arifin Djunaedi, mantan wakil Bupati Luwu Timur Saldy Mansyur, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta ribuan masyarakat Luwu Raya turut hadir.

Luwu Raya adalah sebutan lain dari empat kabupaten dan kota yang ada di Tana Luwu yaitu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Sebelumnya, empat daerah ini tergabung dalam satu daerah otonom yaitu Kabupaten Luwu, sebagai kabupaten induk.

Dalam sambutannya, NA sangat mengapresiasi semangat dari acara tersebut, yaitu meningkatkan persatuan segenap Wija To Luwu dalam mendorong akselerasi pembangunan Sulsel yang lebih maju.

NA berharap, seluruh unsur masyarakat di Luwu Raya, baik pemerintah maupun masyarakat, bersatu untuk bekerja menjadikan Luwu Raya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Perkembangan sebuah daerah, lanjut NA, kuncinya ada pada pembangunan infrastruktur yang mampu menghubungkan setiap daerah, sehingga pusat ekonomi baru bisa terbentuk. Contohnya wilayah Seko.

“Selama ini, Seko sulit sekali untuk diakses. Alhamdulillah, tahun ini kita sudah menganggarkan pembangunan jalan, sehingga tahun ini rencananya jalan menuju Seko sudah berfungsi,” tandasnya.

Kecamatan Seko atau Wono adalah satu dari tiga daerah terisolir di Kabupaten Luwu Utara. Berada sekitar 1.200 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut di segitiga perbatasan antara Provinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Selain Seko, dua kecamatan lainnya, Rampi dan Limbong hingga saat ini masih masuk dalam kategori terisolir. Tiga daerah ini sangat sulit dijangkau melalui jalur darat. Beruntung Seko dan Rampi telah dilayani jalur penerbangan dengan tipe pesawat perintis.

Letaknya yang berada di daerah pegunungan membuat daerah ini jauh dari kata layak dari aspek pembangunan infrastruktur. Untuk menjangkau Rampi dan Seko yang merupakan daerah terjauh, dibutuhkan waktu hingga tujuh hari perjalanan melalui jalur darat.

Namun dengan segala keterbatasan dan keterbelakangan dari aspek pembangunan infrastruktur, membawah “berkah” tersendiri bagi masyarakat di tiga kecamatan ini.

Sulitnya menjangkau daerah ini membuat masyarakatnya bertahan dengan pola hidup turun-temurun. Bahan atau pupuk kimia nyaris tidak menyentuh tiga daerah ini. Alhasil, pangan yang dihasilkan lebih sehat.

Penghasil Padi Organik

Selain kopi, kakao, dan peternakan sapi, salah satu produk unggulan yang menjadi sumber pendapatan masyarakat yaitu padi organik.

Pertanian padi organik yaitu usaha tani padi secara menyeluruh dan proses produksi sampai proses pengolahan hasil dikelolah secara alami dan ramah lingkungan tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetik sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi.

Saat ini, tercatat delapan varitas unggulan padi organik yang dikembangkan masyarakat yaitu, varitas dambo  tarone, bandarata, banjara, remaja, paresale, jamborana, parekamba.

Tahun 2018 kedelapan varitas ini telah memperoleh sertifikasi dari Kementerian Pertanian RI. Di tahun 2019, Pemkab Lutra memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan, irigasi serta penyediaan energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).

Pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas pendukung lainnya sebagai upaya pengembangan dan peningkatan komoditas pertanian antara lain padi organik, kopi, kakao dan ternak sapi.

Selain jalan desa dan jalan tani, pemerintah juga akan mempercepat pembangunan infrastruktur jalan yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini dimaksudkan agar pemasaran hasil bumi bisa lebih maksimal.

Tahun 2017, luas lahan persawahan di Kecamatan Rongkong 1,024 hektar dengan produkai 5.711 ton, Seko 4.173 hektar dengan produksi 21.958 ton, dan Kecamatan Rampi 452,1 hektar dengan produksi padi organik 2.369 ton. Sementara ribuan hektar lahan berpotensi untuk pengembangan peternakan sapi dan kerbau.

Selain pengembangan Seko di Luwu Utara, NA juga mengungkap rencana pembangunan jalan penghubung antara Bua, Kabupaten Luwu dengan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara yang anggarannya sudah disetujui pemerintah pusat.

“Kalau proyek ini (poros Bua-Rantepao) berjalan dengan lancar, maka kita bisa menghubungkan Toraja sebagai destinasi wisata unggulan di Sulsel dengan Luwu Raya,” lanjutnya.

Selain pembangunan infrastruktur, NA juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, Pemprov Sulsel terus bersinergi dengan Pemerintah Palopo dalam rangka pembangunan Rumah Sakit Regional.

Dengan adanya rumah sakit regional ini, masyarakat tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh ke Makassar untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

“Berbagai rencana pembangunan tersebut hanya dapat dijalankan dengan adanya sinergi yang baik antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota,” pungkasnya.

Apabila pembangunan infrastruktur dapat terlaksana dengan baik, kata NA, otomatis akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sumber daya manusianya juga baik. “Saya meyakini Luwu Raya ini akan siap menjawab segala tantangan dan menjadi wilayah kebanggaan Sulsel,” tutupnya.

Sementara itu, Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani yang hadir pada kegiatan halal bi halal ini mengajak semua elemen Wija To Luwu untuk menumbuhkan kembali semangat Wanua Mappatuo Na Ewai Alena demi kejayaan dan kebesaran Tana Luwu.

“Momentum seperti ini harus menjadi refleksi kita bersama dalam menguatkan ikatan emosional kebersamaan membangun Tana Luwu, untuk kemajuan wilayah yang kita cintai itu adalah tanggung jawab kita bersama,” harapnya.

Hal senada diungakpakan Bupati Luwu Timur, M Thorig Husler yang ditemui usai acara. Menurutnya, momen halal bihalal selain sebagai ajang silaturahmi sesama Wija To Luwu, juga sekaligus menjadi ajang urung rembuk dalam rangka berpartisipasi dalam pembangunan di Luwu Raya.

Olehnya itu, Husler berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas, namun menjadi wadah bagi keluarga besar Luwu Raya untuk tetap membangun suatu kemitraan yang mengedepankan rasa persatuan dan kebersamaan sesama warga masyarakat se-Tana Luwu.

Wali Kota Palopo, M Judas Amir tidak hadir dalam kegiatan karena menghadiri pembukaan Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI) Tahun 2019 yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta, Jumat (12/79.

Kegiatan hasil kerjasama ITB dengan Metro TV, APEKSI, dan Asosiasi Prakarsa lndonesia Cerdas (APIC) ini dibuka oleh Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla. Sebanyak 92 wali kota seluruh Indonesia hadir pada kegiatan ini.

Rating Kota Cerdas Indonesia bertujuan untuk mengetahui progres pengembangan kota di Indonesia terkait dengan peningkatan kualitas hidup kota melalui upaya solusi cerdas. Kegiatan ini akan berlangsung hingga November mendatang.

Di akhir acara, para kepala daerah se-Luwu Raya bercengkrama dengan gubernur dan mantan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang hadir. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *