oleh

Kades Tara Tallu Lutra Diduga Cekal Pencalonan Kadus Bone Kalua

RADARLUWURAYA.com – Kepala Desa Tarra Tallu, H Artin diduga cekal salah satu calon Kepala Dusun (Kadus) Bone Kalua, bernama Anas.

Demikian diungkapkan salah satu warga Dusun Bone Kalua, Hasnaini kepada RadarLuwuRaya.com, Kamis (28/2).

“Saya kecewa dengan pak Desa, untuk apa mengadakan Pemilihan Dusun kalau salah satu calon yang sudah lengkap berkasnya malah seolah-olah ditolak untuk mencalonkan,” ungkap Hasnaini yang merupakan ibu dari calon Kepala Dusun Bone Kalua, Anas.

Lebih jauh diceritakan Hasnaini, bahwa sekitar tanggal 18 Februari lalu, bahkan Kepala Desa Tarra Tallu sempat mengeluarkan pengumuman tentang pendaftaran calon Kadus.

Pengumuman tersebut bahkan di sampaikan di mesjid dengan beberapa persyaratan, diantaranya umur maksimal 42 Tahun dan memiliki Ijazah SMU.

“Lalu salah satu masyarakat dusun Bone Kalua mendaftar, tetapi Kepala Desa malah menganti syarat yang sudah di sampaikan sebelumnya dengan menambahkan syarat bagi dusun yang masih menjabat, bahwa umurnya bisa lewat,” beber Hasnaini.

Diketahui, Kadus yang saat ini menjabat selain umurnya sudah melewati umur 48 Tahun, ditenggarai sementara mengurus Ijazah paket B dan C untuk memenuhi persyaratan dalam pencalonan sebagai Kadus Bone Kalua.

Bahkan dibeberkannya, Kepala Desa Tarra Tallu juga membuat keputusan bahwa Dusun yang menginginkan ada pemilihan Kadus harus mengumpulkan petisi (Tanda tangan Warga) sebagai salah satu bukti aspirasi pemilihan Kadus Bone Kalua.

Sebab kalau tidak ada petisi (tanda tangan warga) maka Kepala Desa akan melanjutkan jabatan Kadus yang lama sebagai Kadus Bone Kalua.

“Ini yang menjadi permasalahan di Dusun Bone Kalua, Desa Tarra Tallu. Sebab proses pengumpulan tanda tangan bertolak belakang dengan pengumuman yang disampaikan Kepala Desa,” imbuhnya.

Dirinya menilai yang paling meresahkan dalam pemilihan Dusun Bone Kalua tersebut adalah pengumpulan tanda tangan. Sebab hal itu berpotensi mengkotak-kotakkan masyarakat.

“Ini semacam membangun stigma bahwa masyarakat A membenci masyarakat B. Ini sudah melanggar UU Desa Pasal 29,” tandasnya.

Hingga berita ini terbit, belum ada tanggapan resmi dari Kepala Desa Tarra Tallu, H Artin. (Ale)

Komentar