oleh

Kepsek SMA 15 Luwu Utara Bantah Gurunya Bolos Mengajar

RADARLUWURAYA – Keluhan orang tua siswa SMA negeri 15 Luwu Utara atas tidak masuknya guru mengajar selama dua bulan terakhir dibantah oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 15 Luwu Utara, Ahmadi.

Menurutnya informasi itu tidak benar. Hanya saja memang guru masuk mengajar secara bergantian akibat akses dan biaya untuk ke Rampi.

“Kita hanya gantian ke atas (Rampi) untuk mengajar, ini dikarenakan tenaga guru kita semuanya bukan berdomisili di Rampi,” kata Ahmadi melalui via telpon selulernya,Jumat (19/10/18).

BACA JUGA: Guru Tak Mengajar Selama Dua Bulan, Sekolah Ini Terlantar

Biasanya,kita gantian tiga minggu sekali. Nanti yang berada di Rampi pulang setelah yang lain naik untuk mengajar.

“Kalau yang duluan ke atas (Rampi) pulang, guru yang lainnya ke atas lagi untuk mengajar,” jelasnya.

Dia juga menyebutkan bahwa karena keadaan ini termasuk karena daerah terpencil maka dilakukan sistem gantian untuk masuk mengajar.

“Untuk mengajar saja, kita mempersiapkan dana yang cukup besar. Jadi kita masuk mengajar itu tergantung keuangan karena biaya ke atas itu bisa menghabiskan dana minimal Rp 2 Juta rupiah,” jelas Ahmadi.

Namun pernyataan Ahmadi ini bertolak belakang dengan yang dirasakan orang tua siswa di SMA Negeri 15 Luwu Utara. Salah seorang orang tua siswa, Pasisa Tapue mengatakan hamper setiap hari anaknya pergi ke sekolah namun harus menerima kenyataan pahit tak satu pun guru yang didapati di sekolah.

BACA JUGA: Bahas Vaksin MR, Dokter dari Nepal Temui Bupati Luwu Utara

“Anak saya berangkat pagi ke sekolah namun selang dua jam ia kembali lagi, saat saya tanya katanya tidak ada guru datang pak,” kata Pasisa, Jumat (19/10/18).

Sementara itu, salah seorang tokoh pemuda di Kacamatan Rampi, Frans Aris Paelo merincikan, jumlah tenaga PNS di SMA Negeri 15 Luwu Utara sebenarnya sebanyak 6 orang yang terdiri dari 4 orang guru kelas, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.

“Sudah dua bulan ini kami mendapatkan laporan dari orang tua siswa yang menyebut tidak satupun guru yang masuk mengajar, kami prihatin dengan kondisi ini, sebab para guru ini hanya makan gaji buta. Kami mendesak Pemerintah Provinsi agar tidak menutup mata dan melakukan evaluasi terjadap kinerja guru di sekolah ini,” ujar Frans.

Dia pun menyebut demi kepentingan siswa, Pemerintah Provonsi Sulawesi Selatan harus segera mengambil langkah tegas terhadap guru yang ditempatkan di Kecamatan Rampi, sehingga proses belajar mengajar kembali berjalan seperti biasanya.

(Aksan)

Komentar