oleh

Minimarket Sembako untuk Pengungsi

MASAMBA–RADARLUWURAYA.com–Banjir lumpur yang memporakporandakan Masamba dan sekitarnya, sudah memasuki hari ke 27. Tak ada lagi relawan-relawan yang berada di lokasi bencana. Namun bencana yang menewaskan 38 warga Masamba dan Radda itu, menyisakan 14.394 jiwa berada di pengungsian yang tersebar di sejumlah titik. Bagaimana kondisi kekinian di pengungsian? Berikut laporannya.

KETIKA memasuki lokasi bencana, tak ada lagi aktivitas penyelematan dan tim-tim relawan yang melakukan evakuasi. Yang ada tinggal aktivitas pemulihan kawasan pemukiman warga yang tertimbun material lumpur. Relawan yang masih tersisa, aparat pemkab Luwu Utara, pasukan TNI, berjibaku dengan warga membersihkan pemukiman dan rumah-rumah warga yang masih tertimbun.

Akvitas ini terlihat di sepanjang jalan Radda menuju Masamba. Dua alur sungai, yakni Sungai Masamba dan Sungai Radda, masih terus dilakukan pengerukan sedimen. Namun, aktivitas pengerukan itu nyaris menjadi sia-sia, lantaran saban sore, hujan terus menguyur Masamba dan sekitarnya. Akibatnya, sedimen-sedimen dari alur sungai yang sudah dikeruk, kembali lagi masuk ke dalam sungai.

Sementara di sejumlah titik pengungsian, aktivitas yang ada hanya kumpulan warga-warga yang terdiam dalam barak-barak pengungsian. Tak ada aktivitas yang berarti dilakukan warga. Tak ada lagi pendistribusian bantuan kemanusiaan, seperti hari-hari pertama pasca bencana. Wajah para warga di pengungsian tak bisa menghilangkan trauma yang dialaminya.

Namun, di tengah-tengah warga pengungsi masih terlihat puluhan relawan yang terus melakukan pendampingan. Sejumlah akvititas dilakukan untuk mengobati trauma warga tersebut. Baik secara medis maupun secara sosial. Warga dan terutama anak-anak diajak untuk terus bermain dan bersenda gurau. “Kami terus melakukan pendampingan kepada warga pengungsi agar mereka bisa lepas dari traumaatas bencana yang dialaminya,” tutur dr Fadly, koordinator PCC 119 Kota Palopo di lokasi pengungsian di Radda.

Fadly, yang berada di lokasi bencana sejak peristiwa bencana itu terjadi, masih bertahan di lokasi pengungsian untuk mendampingi dan membantu warga di pengungsian. Bersama dengan tim relawan PCC 119, Fadly membaut dengan pengungsi.

Kebutuhan dasar dan faktor kesehatan warga pengungsi menjadi fokus Fadly dan tim relawannya. Pasalnya, kebutuhan dasar dan masalah kesehatan inilah yang kerap menjadi masalah besar di semua lokasi pengungsian bencana.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di pengungsian, Fadly dan tim relawannya membangun minimarket sembako khusus melayani pengungsi. Minimarket ini berupaya memenuhi kekurangan kebutuhan dasar warga. Hal itu dilakukan, lantaran bantuan kemanusiaan untuk para korban di pengungsian sudah tidak semasif di awal-awal bencana, sehingga pihaknya membangun minimarket ini.

Keberadaan minimarket ini, ungkap Fadly, diupayakan membantu warga di pengungsian. Artinya, ketika ada warga di pengungsian yang kekurangan bahan makanan pokok, bisa diambil di minimarket sembako itu. “Kami tidak memungut bayaran sepersen pun,” ujar Fadly lagi.

Bahan makanan yang berada di minimarket itu, kata Fadly, adalah bantuan kemanusiaan yang tidak tersalurkan ke warga pengungsi secara langsung, dan bantuan-bantuan personal dari jejaring relawan yang masih berempati pada korban bencana Masamba. ‘Namun, kebutuhan dasar warga di pengungsian yang diterima dari bantuan kemanusiaan bisa bertahan hingga sebulan. Nah..bila nantinya kebutuhan itu sudah habis maka warga bisa mengambilnya di minimarket itu,” urainya lagi.

Untuk mengambil atau berbelanja di minimarket itu, pihak pengelola membagikan daftar kebutuhan per keluarga, dengan mencantumkan jumlah anggota keluarganya. Daftar kebutuhan itu diserahkan ke pengelola, sehingga tidak ada warga yang menimbjun kebutuhan dasar itu di lokasi-lokasi pengungsian. “Mereka diberikan berdasarkan dengan kebutuhan dalam seminggu,” jelas Fadly.

Sejak minimarket sembako ini berdiri, katanya, pengungsi yang berada di luar Radda, justru banyak datang ke minimarket lantaran mereka mengaku kekurangan. “Dan semuanya kami layani. Tak ada pengecualian, sebab yang ada di minimarket ini adalah hak mereka. Kami hanya memenej semua bantuan kemanusiaan yang masuk ke lokasi pengungsian,” tutur Fadly lagi. (rlr)

Komentar