oleh

Penambang Ilegal Disebut Picu Banjir Bandang di Gowa

RADARLUWURAYA.com – Bencana banjir bandang yang menerjang beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (22/1/2019) disinyalir akibat ulah para penambang di pinggiran sungai Je’neberang.

Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel Muhammad Al Amin tak menampik hal itu, dia mengaku dari data yang diterima, hulu sungai Je’neberang mengalami kerusakan parah akibat aktivitas tambang pasir dan batu dalam kurung waktu 3 tahun terakhir.

“Bencana yang terjadi sangat erat kaitannya dengan aktivitas tambang disana, hulu sungai jeneberang mengalami kerusakan yang parah, hilirnyapun tidak begitu optimal dikerjakan,” katanya kepada Inikata.com (Grup Radarluwuraya), Rabu (23/1/2019).

Aktivitas tambang ini kata Amin, mengakibatkan terjadinya sedimentasi yang jika terjadi hujan lebat akan dengan cepat meninggatkan debit air, seperti yang terjadi saat ini.

“Banyaknya aktivitas tambang di sepanjang hulu sungai jeneberang yang mengakibatkan sedimentasi di sungai, hingga terjadi bencana seperti kemarin,” bebernya.

Apalagi kata Amin, ada beberapa tambang ilegal yang juga beroperasi, namun tidak mendapat tindakan tegas dari Pemerintah setempat.

Dia menyarankan kepada Bupati Gowa Adnan Purichta IYL agar berani mengambil tindakan untuk menghentikan aktivitas tambang lalu melakukan kajian lingkungan agar tak lagi terjadi bencana banjir bandang.

“Bupati gowa dan Pemerintah Provinsi harus belajar dari saat ini, dan menghentikan aktivitas tambang lalu

melakukan kajian lingkungan agar kejadian ini tak lagi terjadi,” pintanya.

Sementara, staff Humas Pemda Gowa, Widya yang dihubungi terpisah oleh Inikata.com enggan berkomentar soal penyebab terjadi banjir bandang

yang menerjang pemukiman warga dan memakan korban jiwa.

Tercatat, sudah 22 nyawa melayang akibat bencana banjir bandang di Kabupaten Gowa, dan sedikitnya ada 2.121 warga mengungsi. (*)

Komentar