oleh

Tega, Desa di Selandia Baru Larang Warganya Pelihara Kucing

RADARLUWURAYA.com – Sebuah desa kecil di Pantai Selatan Selandia Baru berencana untuk menerapkan rencana radikal untuk melindungi satwa liar aslinya dengan cara melarang memelihara kucing domestik. Dilansir BBC pada Kamis, (30/8), inisiatif itu diusulkan diusulkan oleh Environment Southland.

Kedengarannya ekstrim, tetapi mungkin ada sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh komunitas. Kucing bertanggung jawab atas kematian miliaran burung dan mamalia setiap tahun, dan menurut beberapa orang, itu semua adalah kesalahan manusia.

Kepala Pusat Burung Migran Smithsonian Peter Marra telah menulis jurnal dan buku tentang masalah ini. Sebelumnya, Marra menegaskan, ia tidak anti kucing atau melawan kepemilikan kucing.

“Kucing hewan peliharaan yang indah, mereka hewan peliharaan yang spektakuler. Tetapi mereka seharusnya tidak diperbolehkan berkeliaran di luar, ini adalah solusi yang sangat jelas,” katanya kepada BBC.

“Kami tidak akan membiarkan anjing melakukan itu. Sudah waktunya kita memperlakukan kucing seperti anjing,” paparnya.

Di Omaui, para pejabat mengatakan, tindakan itu dibenarkan karena kamera telah menunjukkan kucing berkeliaran memangsa burung, serangga, dan reptil di daerah tersebut.

“Jadi kucing Anda dapat menjalani kehidupan alaminya di Omaui dengan senang hati melakukan apa yang dilakukannya. Tetapi kemudian ketika ia mati, Anda tidak bisa memiliki kucing lagi,” kata Manajer Pperasi Keamanan Bio, Ali Meade.

Berdasarkan rencana tersebut, siapa pun yang tidak memenuhi syarat akan menerima pemberitahuan, sebelum pejabat akan menghapus hewan peliharaannya.(jpnn/tiara)

Komentar