oleh

Welcome Back IAS

SBJ : Kami Butuh Wejangan Beliau

RADARLUWURAYA.com, MAKASSAR – Mantan Wali Kota Makassar dua periode (2004-2014), Ilham Arief Sirajuddin akhirnya resmi bebas murni dari masa tahanannya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Makassar, Senin (15/7/2019). IAS sapaan akrabnya, mengatakan dirinya sangat bersyukur atas kebebasan dirinya dari Lapas Klas 1A Makassar.

“Saya bersyukur, 5 bulan terakhir, pas 5 bulan saya di Lapas Makassar, kemudian di (rutan) Guntur 17 bulan 11 hari, kemudian di Lapas Sukamiskin 2 tahun 18 bulan 19 hari Jadi totalnya 4 tahun 5 hari,” kata IAS, dihadapan para jemaah Anjungan Pantai Losari Makassar, Senin (15/7).

IAS mengaku sempat terbawa emosi saat awal–awal kasusnya berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. “Tapi seperti kata anak saya, itu emosional sesaat. Selebihnya saya bersyukur, semua ini ada hikmahnya,” katanya.

Tak ingin ketinggalan menyambut IAS, eks Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal atau Dg Ical juga turut hadir dalam salat shubuh berjamaah itu. Selain itu, istri IAS, Aliyah Mustika Ilham (AMI) serta para anak-anaknya tampak hadir mendampingi Ilham Arief Sirajuddin.

Sebelumnya, berdasarkan dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) KPK, IAS didakwa bersama Hengky Widjaja telah memperkaya diri sebesar Rp 5,5 miliar.

Ilham juga didakwa memperkaya Hengky Widjaja selaku Direktur Utama PT Traya Tirta Makassar sejumlah Rp 40,3 miliar lebih

Perbuatan Ilham dan Hengky, diduga merugikan keuangan negara atau daerah dalam hal ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar senilai sekitar Rp 45,8 miliar lebih.

Perkara hukum ini berdasarkan dari Laporan Hasil Pemeriksaan Penghitungan Kerugian Negara oleh BPK Nomor 24/HP/XIX/09/2015 tanggal 18 September 2015.

Isinya pelaksanaan kerja sama rehabilitasi, kelola, dan transfer Instalasi Pengolahan Air II Panaikang, antara PDAM Kota Makassar dengan PT Traya Tirta Makassar Tahun 2007 sampai 2013.

KPK menuntut Ilham dengan ancaman pidana dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Di Pengadilan Tipikor Jakarta, IAS divonis 4 tahun penjara. Setelah itu, di tingkat banding hukumannya ditingkatkan oleh Pengadilan Tinggi DKI jadi 6 tahun. Selain itu, IAS juga disuruh membayar uang pengganti Rp 4 miliar.

Mahkamah Agung (MA) kemudian meringankan vonis IAS yang sebelumnya 6 tahun penjara menjadi 4 tahun. Uang pengganti juga diperbaiki menjadi Rp 175 juta dari sebelumnya di tingkat banding IAS disuruh membayar uang pengganti Rp 4 miliar.

IAS divonis bersalah telah menyalahgunakan kewenangannya sebagai Wali Kota Makassar untuk menguntungkan diri sendiri. Uang itu berasal dari selisih penerimaan pembayaran dari PDAM Makassar dengan pengeluaran riil PT Traya Tirta Makassar.

Sebelumnya, IAS pernah menang di praperadilan. Namun KPK kembali mengeluarkan sprindik baru hingga akhirnya di pengadilan, eks Wali Kota Makassar itu terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi.

Kemarin, sosok yang dikenal rendah hati ini resmi bebas dari dinginnya jeruji besi. Kebebasannya pun disambut hangat dan haru oleh keluarga, kerabat dan masyarakat.

Wakil Bupati Luwu, Syukur Bijak (SBj) salah satunya. Orang yang dikenal cukup dekat dengan IAS ini bahkan tak kuasa menahan air mata menyambut bebasnya sang mentor politiknya tersebut.

“Sangat bahagia dan terharu, kami sebagai adik, saudara dan keluarga merasa sangat bersyukur dengan bebasnya Pak Ilham. Semoga akan membawa kebaikan bagi kita semua di masa mendatang,” katanya.

Bagi SBj, IAS bukan hanya sekadar guru politik. Tetapi lebih sebagai sahabat, bahkan orang tua bagi orang-orang terdekatnya yang masih sangat dibutuhkan wejangan-wejangan politiknya.

“Yang paling berkesan bagi kami ini, beliau (IAS) tidak pernah membeda-bedakan orang. Semua orang dipandang dan diperlakukan sama, itulah kenapa orang-orang terdekat beliau (IAS) sulit melupakan jasa-jasa beliau,” kata SBj.

Menurut SBj, sebagai orang yang besar dan dibesarkan oleh lingkungan politik, saran dan masukan IAS masih sangat dibutuhkan demi kemajuan Sulawesi Selatan di masa mendatang.

“Beliau kan lahir dari “rahim” politik, jadi segala sesuatu dapat saja terjadi. Termasuk kembalinya beliau ke dunia politik yang selama ini membebasarkan namanya itu dapat saja terjadi dan kita sangat berharap itu,” kata SBj. (Wandi)

Komentar