oleh

AMARA Palopo Tolak Impor Beras

RADARLUWURAYA.com – Sejumlah mahasiswa di Kota Palopo menggelar aksi unjukrasa menolak langkah pemrintah Republik Indonesia (RI) melakukan impor beras.

Penolakan itu dilakukan mahasiswa dalam Aliansi Mahasiswa dan Rakyat (AMARA) Kota Palopo, yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Himpunan Mahasiswa Basse Sangtempe (HAM BASTEM), dan Serikat Rakyat Miskin Demokratik (SRMD). Mereka menggelar aksi unjukrasa disejumlah titik di Kota Palopo.

Jenderal lapangan AMARA Palopo, Tandiesak Parinding menyebutkan, langkah pemerintah pusat yang sejak Januari-Agustus 2018 masih mengimpor beras dari Negara Thailand merupakan kebijakan yang merugikan negara dan rakyat Indonesia, pada khususnya petani. Pemerintahan Jokowi-JK menurutnya sedang mendistorsi predikat negara kita sebagai Negara Agraris yang kaya dan subur melalui kebijakan impor beras itu.

”Kebijakan impor beras ini, diputuskan oleh pemerintah secara bertahap mulai pada bulan Januari, Maret dan Mei 2018 lalu. Dimana pada Januari pemerintah memutuskan pemberian izin kepada Bulog untuk mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton. Pada Maret 2018 Bulog diberi izin mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton dan pada bulan Mei, pemerintah kembali memberi izin bagi Bulog untuk mengimpor beras sebanyak satu juta ton. Jadi total beras yang akan diimpor dari Thailand, mulai periode Januari hingga September 2018 sebanyak dua juta ton,” ungkapnya.

Parinding menjelaskan, saat ini hasil panen petani di Indonesia cukup berlimpah, sehingga kebijakan mengimpor beras bukan hanya merugikan Negara, tetapi juga merugikan para petani. Sebab, hasil panen mereka tidak dapat diserap oleh Bulog secara maksimal, sebab Bulog diwajibkan membeli beras dari importir Thailand.

“Naifnya, Mentri Perdagangan (Mendag) RI, Enggartiasto Lukita bahwa kebijakan menambah kuota impor beras sebanyak satu juta ton pada bulan Mei 2018 lalu adalah sebagai upaya pemerintah untuk menyiapkan stok beras bagi kebutuhan rakyat Indonesia. Padahal Kepala Bulog RI, Budi Waseso menyatakan bahwa stok beras kita aman. Bahkan Bulog kewalahan membeli produk komoditas petanian berupa gabah dan beras, karena hasil panen petani pada awal dan pertengahan tahun 2018 cukup berlimpah. Siapa yang berbohong diantara dua pejabat ini,” katanya.

Atas dasar tersebut, AMARA Palopo dengan tegas menybutkan jika nawacita Jokowi-JK adalah strategi dan taktik untuk menipu rakyat Indonesia pada Pilpres 2014 lalu.

”Olehnya itu, kami dari AMARA-Palopo dengan tegas menyatakan, menolak kebijakan mengimpor beras, dan meminta kepada Presiden Jokowi segera mencopot Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita yang anti rakyat, khususnya kaum petani di Indonesia,” tegasnya. (yudi)

Komentar