oleh

Keberadaan Kades Matano tak Jelas, Kejari Batal Jemput Paksa

RADARLUWURAYA.com – Kanit Resmob Polres Luwu Timur, AIPDA Hardi pimpin anggotanya mengawal aparat dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Luwu Timur menuju Dusun Matano, Desa Matano, Kecamatan Nuha, Rabu (30/1) lalu.

Hal ini dalam rangka menjemput Kepala Desa Matano Johnlis DM sebagai terdakwa dalam kasus pemalsuan Ijazah sesuai dengan putusan Mahkamah Agung (MA).

Namun pada saat aparat tiba di rumah terdakwa, yang bersangkutan tidak berada ditempat. Menurut keterangan masyarakat setempat, terdakwa sedang berada di Makassar sejak tanggal 11 Januari 2019 lalu dalam rangka berobat.

Namun hingga saat ini terdakwa belum kembali ke kediamannya. Sehingga personil kemudian meninggalkan Desa Matano pada jam 14.45 WITA.

Untuk itu, selanjutnya pihak Kejaksaan Negeri akan terus berkoordinasi dengan pihak Polres Luwu Timur untuk dapat melakukan Eksekusi terkait putusan Mahkamah Agung tersebut.

Sebelumnya, keberadaan Kepala Desa Matano, Johnlis memang jauh-jauh hari dikabarkan tidak jelas.

Bahkan Kejaksaan Negeri Luwu Timur pernah melayangkan surat panggilan sebanyak tiga kali kepada Johnlis terkait putusan Mahkamah Agung yang menerima banding Jaksa Penuntut Umum terhadap kasus ijazah palsu paket B yang divonis bebas Pengadilan Negeri Malili dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri (PN) Malili, Sulawesi Selatan (Sulasel), Kamis (26/10/2017) lalu.

Sidang yang diketuai Ketua PN Malili, Khairul, Andi Muh Ishak, dan Reno Hanggara disaksikan puluhan sanak keluarga Jonlis.

Kasi Pidum Kejari Luwu Timur, Irwansyah SH mengatakan, Mahkamah Agung telah menerima banding JPU kasus penggunaan ijazah palsu.

“Kasus ini telah berkekuatan hukum tetap (inkrah). Putusan MA telah turun pada September dan Oktober 2018,” kata Irwansyah.

Jonlis jadi terdakwa kasus penggunaan ijazah palsu saat maju di Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tahun 2015. Jonlis keluar sebagai pemenang Pilkades waktu itu.

Hanya saja, surat ini lambat direrima pihak Kejari Luwu Timur. Selama tiga kali dipanggil, tidak ada respon.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan polisi untuk melakukan penangkapan paksa. Itu setelah undangan keempat tidak diindahkan. Kebedaraan Johnlis sampai hari ini pun belum diketahui.

Kasus ini awalnya ditangani Penyidik Polres Luwu Timur. Itu setelah mendalami pengaduan sejumlah warga Desa Matano, Kecamatan Nuha perihal dugaan ketidak aslian ijazah yang dimiliki Johnlis.

Kasus ini bermula pada tanggal 25 Mei lalu, saat tiga warga Matano melayangkan surat pengaduan kepada penyidik Polres Luwu Timur tentang adanya indikasi dan dugaan bahwa Johnlis menggunakan ijazah palsu paket B saat mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa Matano.

Salah satu Jaksa Penuntut Umum Kejari, Baso Sutrianti, mengakui memang putusan ini sudah inkrah. “Kami sudah terima salinan putusan MA,” katanya.

Camat Nuha, Masdin saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya tidak mengetahui keberadaan pelaku saat ini.

”Kalau mau ditangkap silakan saja ke rumahnya. Jelas alamatnya. Datangi saja,” jelasnya belum lama ini (*/RadarLuwuRaya/Fajar)

Komentar