oleh

Mengenal Mo Haha, Baju Berbahan Kulit Kayu Asal Rampi

RADARLUWURAYA.com – Melestarikan budaya menjadi salah satu tanggung jawab setiap pemuda Indonesia. Berangkat dari hal itu, salah seorang Pemuda asal Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Muhammad Saldin menyadari ada ciri khas busana yang ditinggalkan nenek moyang masyarakat Rampi yang menurutnya perlu untuk di lestarikan yaitu Mo Haha atau dikenal dengan baju bahan dasarnya yang terbuat dari kulit pohon kayu beringin.

“Berkeinginan untuk memproduksi kembali baju berbahan dasar kulit kayu ini tidak hanya bermodalkan niat saja melainkan butuh modal,” tutur Saldin kepada RadarLuwuRaya.com, Kamis (3/1).

Disebutkannya, pembuatan baju dari kulit kayu ini memiliki cara tersendiri, di mana dia dibuat tanpa di jahit dan tanpa mengunakan benang melainkan di pukul” dalam bahasa rampinya (Mo Haha). Di sebut mo haha, sebab alat berupa batu yang di ambil dari kampung orang tua dulu di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu utara adalah kampung pe ha ha.

BACA JUGA; Bupati Indah Terima Penghargaan APE 2018

Selain itu kata dia, untuk membuat baju itu perlu waktu cukup lama yakni satu bulan, sebab pengambilan bahan di hutan yaitu berupa tangkai pohon beringin muda di ambil kulitnya. Setelah itu, di pisahkan kulit kasarnya dengan kulit halus, lalu dilakukan perebusan selama 2 jam, selesai perebusan, di bungkus dengan menggunakan daun liwonu dalam versi bahasa rampi.

“Gunanya untuk membuat baju dari kulit kayu itu menjadi lunak dan bisa di olah menjadi baju, salendang, topi dan tas kecil,” bebernya.

BACA JUGA; Demi Kejayaan Kakao, Pemda Luwu Utara Teken MoU

Lebih jauh dijelaskannya, setelah di bungkus menggunakan daun liwonu, kemudian di diamkan selama 4-5 hari. “Setelah semua selesai di lakukan proses utamanya yaitu (mo haha) memukul kulit kayu agar menjadi satu untuk di bentuk menjadi baju, salendang, topi (siga) khas Rampi,” jelasnya.

Untuk itu, sebagai generasi muda Rampi, dirinya menilai, perlu untuk terus melestarikan kebudayaan tersebut. Saldin yang juga merupakan Ketua Program Inovasi Desa (PID) Kecamatan Rampi berharap, agar generasi atau kaum pemuda Rampi untuk tetap menjaga dan mencintai kelestarian budaya.

BACA JUGA; PC IMM Luwu Utara Segera Terbentuk

Sebab hal ini perlu dilakukan sebagai upaya agar tidak hilangnya budaya peninggalan yang positif dari nenek moyang di telan zaman. Terkhusus kata dia, kepada pemerintahan setempat diharapkan agar senantiasa memberikan perhatian khusus untuk mengembangkan budaya baju yang terbuat dari kulit kayu tersebut.

“Sebab kendala yang besar adalah tempat untuk pembuatan baju dari kulit kayu. Untuk membangun tempatnya butuh modal. Sehingga itu, pemerintah harus memberikan dan memfasilitasi pembuatan baju dari kulit kayu tersebut,” pungkas Saldin. (Ana)

BACA JUGA; 222 Pejabat Pemda Lutra Dimutasi, Ini Nama-namanya

Komentar