oleh

Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual !

RADARLUWURAYA – Kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun terus meningkat. Bukan hanya untuk skala nasional. Di tingkatan daerah pun kasus kekerasan seksual sangat memprihatinkan.

Sayangnya, sampai saat ini payung hukum penghapusan kekerasan seksual tak kunjung disahkan oleh DPR RI. Tercatat sudah dua tahun lamanya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mengendap di DPR RI. Tak ada kemajuan sama sekali, padahal banyak korban kekerasan seksual yang membutuhkan perlindungan RUU tersebut.

Hal ini menjadi sorotan berbagai pihak. Di Kota Palopo, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) mendesak DPR RI untuk segera mensahkan RUU penghapusan kekerasaan seksual menjadi Undang-Undang. Itu agar pelaku kejahatan seksual dapat dihukum dan memberikan efek jera, yang pada akhirnya diharapkan dapat menekan angka kekerasan seksual di Indonesia.

BACA JUGA : Wagub DKI akan Dijabat Pengusaha asal Sulsel ?

Sekretaris Fungsu Aksi dan Pelayanan GMKI Kota Palopo, Eci Maclensi mengungkapkan, pihaknya mencatat sebanyak dua 200 ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan kepada pihak penegak hukum pada tahun 2016. Angka ini menurutnya sangat memprihatinkan, apalagi trendnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

” Saya pikir, RUU PKS adalah solusinya, sebab didalamnya telah mengatur pencegahan, penanggulangan, perlindungan korban kekerasan dan saksi serta pemulihan para korban,” ujarnya disela-sela kegiatan peringatan hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, di Cafe The Brother, Jalan Pongsimpin, Kota Palopo.

BACA JUGA : Warga Yang Ditahan Oknum Mengaku Polisi, Diduga Sindikat Peretas WA

Ia juga mengajak kepada seluruh aktivis perempuan dan para penggiat anti kekerasan terhadap perempuan untuk terus menggalang solidaritas dan kekuatan untuk mendesak DPR RI agar segera mengsahkan RUU PKS. Pada kegiatan yang diisi dialog dengan tema ‘RUU Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan’, GMKI menghadirkan Ketua Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Kota Palopo, A. Fatmawati Syam.

A. Fatmawati Syam pada kesempatan tersebut, menyampaikan mengapresiasi kepada pengurus GMKI yang masih menaruh perhatian khusus terhadap fenomena kekerasan seksual yang kerap melibatkan perempuan dan anak.

”Saya mengajak para aktivis perempuan atau para penggiat anti kekerasan terhadap perempuan bersama-sama mengawal RUU SKL,” ungkapnya.

BACA JUGA : Ketum KNPI Sebut Gagasan Noer Fajrieansyah Unik

Fatma membenarkan jika tingkat kekerasan perempuan di Indonesia setiap tahunya terus meningkat. Dari data Komnas Perempuan, sejak tahun 2002 hingga 2012, atau dalam kurun waktu 10 tahun, sedikitnya ada sekitar 35 perempuan Indonesia yang mengalami kekerasan seksual setiap harinya. Itu artinya, setiap dua jam ada tiga perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual.

”Untuk tahun 2016 sendiri, data yang dihimpun ada sekitar 256.129 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan, oleh karena itu saya mengajak para aktivis perempuan atau para penggiat anti kekerasan terhadap perempuan agar bersama sama mengawal RUU SKL untuk mendorong DPR RI segera mengsahkan RUU SKL menjadi undang-undang. Sehingga ada payung hukum yang lebih komprehensif,” seru Fatmawati. (john)

Komentar