oleh

Ulasan Anggota IAGI Tentang Sesar Matano dan Gempanya

RADARLUWURAYA – Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Budhi Kumarawarman mengulas bahwa Sesar (patahan) Matano merupakan salah satu sesar yang aktif di daratan Sulawesi yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara sepanjang 170 km.

Disebutkan dalam ulasannya, di daratan Sulawesi, sesar ini mulai dari daerah pantai Bahodopi di Teluk Tolo, ke arah barat laut melewati sepanjang lembah Sungai Larongsangi ke area di sebelah utara Desa Lampesue, Petea, sepanjang pantai Danau Matano, Desa Matano dan menyambung di barat laut dengan lembah Sungai Kalaena.

“Meski masih menjadi perdebatan, beberapa ahli seperti bahkan mempercayai bahwa sesar ini menyambung jauh ke timur dengan Sesar Sorong yang ada di Papua,” ujar Budhi dalam ulasannya.

BACA JUGA: Palopo Masuk Daerah Rawan Gempa dan Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Mekanisme sesar ini adalah sesar geser kiri dengan pergeseran relative 5 mm /thn. Secara kolektif sejak terbentuk, sesar ini telah menghasilkan total pergeseran batuan kurang lebih 20 km ke arah barat laut, ditandai dengan batuan-batuan di utara jalur sesar yang bergeser sepanjang sekitar 20 km tadi. Sesar ini terbentuk sebagai hasil dari pergerakan lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah barat.

Pergerakan ini telah menghasilkan gaya tekan di wilayah bagian timur Indonesia yang selanjutnya menghasilkan retakan yang panjang mulai dari kepala burung Papua sampai daratan Sulawesi.

Seiring dengan tekanan yang terus berlangsung akibat pergerakan dari arah timur tersebut, pergerakan ini akhirnya menghasilkan gerakan di sepanjang retakan tersebut dan akhirnya terbentuklah sebuah sesar. Arti sesar sendiri secara simple adalah retakan di kulit bumi dimana sudah ada pergerakan di sepanjang retakan tersebut.

BACA JUGA: Indonesia Butuh Sistem Peringatan Gempa dan Tsunami Baru

Pada sesar besar, umumnya sesar tidak hanya terdiri dari satu garis lurus, tetapi merupakan kumpulan beberapa sesar sejajar yang berdekatan dan membentuk suatu zona sesar yang panjang. Ini juga yang terjadi di Sesar Matano. Di Sorowako, area di antara sesar-sesar yang sejajar tersebut membentuk lembah besar dan dalam, berupa Danau Matanao. Lembah ini terbentuk dari dua sesar sejajar yang memanjang di sepanjang kedua sisi utara dan sisi selatan Danau Matano.

Gempa pada dasarnya adalah release dari akumulasi gaya tekan yang ada di pada sesar tersebut. Saat gaya tekan tidak bisa ditahan lagi, batuan di sepanjang retakan akan bergerak dan gerakan ini disertai getaran yg disebut dg gempa bumi.

“Ini seperti jika kita punya penggaris mika tipis lalu kita tahan satu sisi dan kita dorong sisi kedua ke arah sisi pertama. Saat penggaris mika tadi tidak kuat lagi utk menahan gaya tekan akibat dorongan yang terjadi terus menerus, pada akhirnya penggaris akan patah dan bergetar seperti halnya gempa bumi. Mungkin itu ilustrasi yang mudah soal bagaimana gempa terjadi,” ulas Budhi.

Khusus untuk Sesar Matano, ada kemungkinan dua sesar di sepanjang pantai sisi utara dan sisi selatan danau Matano ikut bergerak saat gempa, itulah kenapa kota Sorowako sering ikut merasakan gempa, meskipun pusat gempa bisa jadi jauh dari kota Sorowako. Daerah yang ada di sepanjang pantai Danau Matano bisa jadi juga akan mengalami getaran yang lebih besar dibanding daerah yang lain di sebalah utara atau selatannya.

“Semakin dekat ke jalur sesar, intensitas getaran biasanya semakin besar. Maka di seputar Sorowako, semakin dekat ke danau, intensitas getaran yang dirasakan kemungkinan juga akan semakin besar,” kata dia.

Budhi juga menekankan bahwa gempa merupakan fonemena alam biasa yang bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dikenali. . “Intinya adalah kenali resiko, lakukan langkah-langkah mitigasi,” ujarnya.

Komentar