oleh

Tata Cara Prosedur Fumigasi Menggunakan Fosfin

RADARLUWURAYA.COM – Fosfin memiliki nama kimia hidrogen fosfida dengan formulasi kimia PH3. Formulasi fosfin biasanya berasal menurut senyawa aluminium fosfida (AlP) yg bereaksi menggunakan uap air. Aluminium fosfida diformulasikan pada bentuk padat dan tersedia menjadi tablet, pelet atau debu pada kantong berpori atau bungkus blister.

Aluminium fosfida (AIP) dipakai menjadi pestisida generik pada luar ruangan dan pada ruangan berkembang lantaran murah, efektif, bebas menurut sisa beracun & tidak mempengaruhi viabilitas benih. Fosfin dipakai secara luas menjadi fumigan, mempunyai keuntungan tidak meninggalkan sisa beracun.

Khususnya dalam lokal penyimpanan komoditas misalnya gudang benih, produk makanan, produk olahan, biji-bijian yg mengandung lemak dan protein tinggi. Selain adalah fumigan yang sangat beracun, fosfin kondusif terhadap komoditas.

Fumigasi Fosfin (Phosphine)

Fumigasi Merupakan cara pengendalian atau pembasmian hama menggunakan cara mengkontaminasi udara menggunakan bahan kimia sebagai akibatnya serangga tewas atau dibasmi. Lantaran memakai bahan kimia berbahaya, maka mengerjakannya wajib  secara hati-hati, teliti & dilakukan sang teknisi professional.

Untuk melakukan fumigasi, masih ada 2 bahan yg paling tak jarang dipakai, yaitu methyl bromide dan  yang kedua merupakan phosphine. Tentu masing-masing punya kelebihannya masing-masing.

Seperti methyl bromide, bahan ini tak jarang dipercaya lebih kondusif lantaran tidak gampang terbakar. Selain itu orang menentukan menggunakannya lantaran dipercaya lebih efektif, hemat dan cepat. Tetapi methyl bromide nir disarankan dipakai buat komoditas pangan, lantaran zat ini mengandung kloropiklin bersifat fitoksik (beracun) terhadap flora hidup, bunga potong, butir segar, sayuran dan biji-bijian. Di beberapa negara, sisa kloropikrin dalam bahan kuliner nir diperkenankan.

Sedangkan buat fumigasi memakai phosphine atau fumigasi fosfin Fumiphos, hal ini terbilang terobosan baru pada global fumigasi. Phosphine sendiri didapatkan berdasarkan aluminium phospide diformulasikan sebagai tablet yg akan bereaksi waktu bertemu menggunakan uap air sebagai sebuah gas bernama phospine. Selain fosfin pada bentuk padat atau tablet, phospine pun tersedia pada bentuk cair atau Phosphine Liquid yg cara mengaplikasikannya sama menggunakan methyl bromide.

Bahan fumigasi ini telah dipakai pada Indonesia, baik buat pergudangan barang-barang furniture dan kerajinan juga gudang komoditas pertanian misalnya beras, kopi, jagung, & lain sebagainya, juga mereka yg akan melakukan ekspor barang-barang tersebut.

Selain pergudangan, mereka yg butuh melakukan fumigasi merupakan layanan kearsipan, lantaran serangga pun tak jarang menyerang penyimpanan file dan data-data misalnya perputakaan atau museum. Untuk menjaga keamanan proses fumigasi, wajib  dilakukan sinkron tahapan-tahapannya, menjadi berikut:

Langkah pertama merupakan pemilihan fumigant atau bahan fumigasi. Lakukan konsultasi menggunakan teknisi profesional sebelum memilih pilihan, sebagai akibatnya sanggup diputuskan bahan apa yg sinkron menggunakan kebutuhan.

Langkah kedua merupakan menggunakan mempersiapkan bahan & alat-alat yg akan dipakai, menyusun planning kerja, penetapan personil fumigasi dilanjutkan menggunakan melakukan informasi lapangan lokasi yg akan difumigasi.

Langkah ketiga, teknisi fumigasi ketika informasi lapangan pastikan selalu memakai wearpack atau sandang kerja lengkap. Lakukan inspeksi lokasi yg akan difumigasi, apakah mempunyai jendela udara yg cukup, lantai yg rapat gas dan bersih, pula telah wajib  bebas berdasarkan keramaian kegiatan kerja.

Langkah ke empat sesudah informasi lapangan merupakan mempersiapkan alat-alat misalnya masker dan bahan buat fumigasi. Pastikan persiapan berjalan menggunakan baik, yaitu pemasangan jalur pemasok gas, jalur sampling, pemasangan sheet, pemasangan perindikasi peringatan dan lain sebagainya.

Langkah kelima merupakan aplikasi fumigasi menggunakan penempatan obat tablet Fumiphos atau fosfin (divestasi gas), monitoring, aerasi atau pembebasan gas. Untuk pembebasan gas sanggup dikatakan kondusif apabila konsentrasi gas fosfin berada < 5ppm.

Langkah terakhir atau ke enam merupakan inspeksi serangga hidup, inspeksi terakhir ini akan memilih apakah fumigasi telah berhasil atau belum. Selain itu pula buat memastikan bahwa ketika dilakukan fumigasi tidak terjadi kesalahan. Info lengkap dapat mengunjungi www.pancaprimawijaya.com

Komentar

News Feed